BATIK

This article is about the painting and textile dyeing technique, for other uses see Batik (disambiguation). For the SVG software library, see Batik (software)

Indonesian batik

Batik (Javanese pronunciation: [ˈbateʔ]; Indonesian: [ˈbatɪʔ]; English: /ˈbætɪk/ or /bəˈtiːk/) is a cloth that traditionally uses a manual wax-resist dyeing technique.

Javanese traditional batik, especially from Yogyakarta and Surakarta, has special meanings rooted to the Javanese conceptualization of the universe. Traditional colours include indigo, dark brown, and white, which represent the three major Hindu Gods (Brahmā, Visnu, and Śiva). This is related to the fact that natural dyes are most commonly available in indigo and brown. Certain patterns can only be worn by nobility; traditionally, wider stripes or wavy lines of greater width indicated higher rank. Consequently, during Javanese ceremonies, one could determine the royal lineage of a person by the cloth he or she was wearing.

Other regions of Indonesia have their own unique patterns that normally take themes from everyday lives, incorporating patterns such as flowers, nature, animals, folklore or people. The colours of pesisir batik, from the coastal cities of northern Java, is especially vibrant, and it absorbs influence from the Javanese, Arab, Chinese and Dutch culture. In the colonial times pesisir batik was a favorite of the Peranakan Chinese, Dutch and Eurasians.[citation needed]

UNESCO designated Indonesian batik as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity on October 2, 2009. As part of the acknowledgment, UNESCO insisted that Indonesia preserve their heritage.[1]

Batik or fabrics with the traditional batik patterns are also found in several countries such as Malaysia, Japan, China, Azerbaijan, India, Sri Lanka, Egypt, Nigeria, Senegal, and Singapore. Malaysian batik often displays plants and flowers, as Islam forbid pictures of other living beings.[2]

History

Wax-resist dyed textile from Niya (Tarim Basin), China

Wax resist dyeing technique in fabric is an ancient art form. Discoveries show it already existed in Egypt in the 4th century BCE, where it was used to wrap mummies; linen was soaked in wax, and scratched using a sharp tool. In Asia, the technique was practised in China during the T’ang dynasty (618-907 CE), and in India and Japan during the Nara period (645-794 CE). In Africa it was originally practised by the Yoruba tribe in Nigeria, Soninke and Wolof in Senegal.[6]

In Java, Indonesia, batik predates written records. GP. Rouffaer argues that the technique might have been introduced during the 6th or 7th century from India or Sri Lanka.[6] On the other hand, JLA. Brandes (a Dutch archeologist) and F.A. Sutjipto (an Indonesian archeologist) believe Indonesian batik is a native tradition, regions such as Toraja, Flores, Halmahera, and Papua, which were not directly influenced by Hinduism and have an old age tradition of batik making.[7]

GP. Rouffaer also reported that the gringsing pattern was already known by the 12th century in Kediri, East Java. He concluded that such a delicate pattern could only be created by means of the canting (also spelled tjanting or tjunting; IPA: [tʃantɪŋ]) tool. He proposed that the canting was invented in Java around that time.[7]

Batik was mentioned in the 17th century Malay Annals. The legend goes when Laksamana Hang Nadim was ordered by Sultan Mahmud to sail to India to get 140 pieces of serasah cloth (batik) with 40 types of flowers depicted on each. Unable to find any that fulfilled the requirements explained to him, he made up his own. On his return unfortunately, his ship sank and he only managed to bring four pieces, earning displeasure from the Sultan.[8][9]

In Europe, the technique is described for the first time in the History of Java, published in London in 1817 by Sir Thomas Stamford Raffles who had been a British governor for the island. In 1873 the Dutch merchant Van Rijckevorsel gave the pieces he collected during a trip to Indonesia to the ethnographic museum in Rotterdam. Today Tropenmuseum housed the biggest collection of Indonesian batik in the Netherlands. The Dutch were active in developing batik in the colonial era, they introduced new innovations and prints. And it was indeed starting from the early 19th century that the art of batik really grew finer and reached its golden period. Exposed to the Exposition Universelle at Paris in 1900, the Indonesian batik impressed the public and the artisans.[6] After the independence of Indonesia and the decline of the Dutch textile industry, the Dutch batik production was lost, the Gemeentemuseum, Den Haag contains artifacts from that era.

Due globalization and industrialization, which introduced automated techniques, new breeds of batik, known as batik cap (IPA: [tʃap]) and batik print emerged, and the traditional batik, which incorporates the hand written wax-resist dyeing technique is known now as batik tulis (lit: ‘Written Batik’). At the same time Indonesian immigrants to Malaysia and Singapore brought Indonesian batik with them.

KARAPAN SAPI

Karapan Sapi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Karapan sapi

Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh sampai lima belas detik. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.

Kerapan sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura yang dinamakan saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang.

ADAT PERNIKAHAN ALA ADAT BETAWI

Kalau bicara keturunan dari mana, saya juga bingun, asalnya bapakku asli jawa dari Magetan yang merantau ke Jakarta sekitar tahun 1960 an dan  mamakku asli Betawi dari Kalibata sedangkan saya lahir dan tumbuh besar di Kalibata tapi saat ini setelah memiliki keluarga tinggal dan menetap sebagai warga Cikarang.  Jadi saat ini yag ada secara tampang wajah adalah Jawa, secara Logat keseharian sedikit ada Betawinya.

sumber @KabariNews.com :

Pakaian Adat Betawi

Pernikahan merupakan suatu prosesi yang sakral bagi kebanyakan orang.
Upacara pernikahan yang digelar di masyarakat memiliki banyak tradisi yang pastinya berbeda dengan daerah lainnya.

Setiap daerah memiliki tradisi unik untuk acara upacara pernikahan. Salah satu yang cukup unik adalah pernikahan adat Betawi.

Dalam budaya aslinya, Pernikahan Betawi termasuk memiliki tahapan yang beragam, dari mulai lamaran, pertunangan, seserahan sampai pernikahan.

Namun sayang, saat ini pernikahan adat Betawi yang unik itu sudah sulit ditemui.

Kebanyakan orang bahkan orang Betawi sekalipun sudah jarang melakukan prosesi pernikahan seperti itu, tetapi lebih banyak mengikuti gaya modern.

Berikut ini sejumlah tahapan dalam pernikahan adat Betawi yang perlu kita ketahui :

1. Melamar Ada istilah sebelum proses melamar calon istri, namanya ngedelengin artinya upaya menemukan kecocokan antara calon suami dan calon istri. Setelah dirasa cocok, dilanjutkan dengan lamaran.
Lamaran adalah proses di mana si keluarga pria mendatangi keluarga si perempuan.

Dalam budaya Betawi yang masih orisinil biasanya yang dikirim
Sebagai utusan adalah anggota keluarga dekat bukan langsung orangtua.
Prosesi lamaran dibarengi dengan membawa aneka makanan sebagai tanda ‘hormat’ keluarga pihak pria kepada pihak perempuan.

Bawaan yang dibawa berupa pisang sebanyak dua atau tiga sisir, roti tawar empat buah, dan beberapa macam buah.

2. Masa pertunangan dan penentuan hari pernikahan

Begitu lamaran diterima pihak perempuan, si pria dan si perempuan pun bertunangan. Tahapan ini ditandai dengan diadakannya acara mengantar kue-kue dan buah-buahan dari pihak pria ke rumah si perempuan.

Dalam acara pertunangan itu pula dilangsungkan musyawarah antara dua keluarga untuk menentukan hari pernikahan calon pengantin.

Biasanya juga membicarakan tentang segala tetek bengek persiapan pernikahan. Misalnya berapa jumlah mas kawin dan jumlah uang belanja.

3. Seserahan Setelah hari pernikahan disepakati, dimulailah rangkaian acara puncak pernikahan adat Betawi.

Jaman sekarang biasanya dalam hal menyediakan keperluan pesta, misalnya untuk makanan, pihak pria memberikan uang belanja begitu saja kepada pihak perempuan untuk dibelanjakan segala keperluan pernikahan.

Kalau jaman dulu, pihak pria benar-benar menyerahkan seserahan berupa beras, ayam, kambing, daging, sayur-mayur, bumbu-bumbu dapur, dan sebagainya untuk membantu perhelatan pernikahan yang biasanya dilangsungkan di rumah mempelai perempuan.

Biasanya berbarengan dengan seserahan calon mempelai pria juga sekaligus menyerahkan uang sembah. Uang sembah bisa dibilang merupakan hadiah dari pihak pria kepada si perempuan.

Uang sembah itu dibawa dengan menggunakan sirih dare, yaitu berupa anyaman dari daun sirih berbentuk kerucut.

Selain uang sembah ada juga uang pelangkah, yakni jika si gadis mempunyai kakak yang belum menikah.

Uang pelangkah wajib disediakan oleh si calon mempelai pria. Maksudnya sebagai tanda permintaan maaf karena si adik mendahuluinya dan semoga si kakak enteng jodoh.

4. Pernikahan Pada hari-H, calon mempelai pria datang beriring-iringan diantar sanak saudara menuju rumah mempelai wanita. Jaman sekarang biasanya ijab dan kabul dilaksanakan di rumah mempelai wanita.

Hal menarik dalam adat pernikahan Betawi adalah prosesi penyambutan oleh mempelai wanita selaku tuan rumah.

Petasan dan musik rebana disiapkan untuk menyambut sang ‘tamu agung’.
Begitu mempelai pria bersama keluarganya tiba, petasan rentet pun dinyalakan, tar..tar.. tar.. bunyi petasan saling bersahutan bersamaan dengan musik rebana yang menyanyikan lagu shalawatan (salam kepada tamu agung).

Ketika datang pun mempelai pria tetap membawa aneka makanan khas Betawi, buah-buahan dan tentu saja Roti Buaya.

Roti Buaya

Roti Buaya merupakan simbol kesetiaan di mana diharapkan sang pengantin saling setia seperti buaya yang hanya kawin sekali seumur hidup.

5. Buka Palang Pintu Sebelum mempelai pria diterima masuk ke dalam rumah, ada prosesi yang namanya Buka Palang Pintu.

Caranya, si keluarga mempelai pria menjelaskan maksud kedatangan mereka dengan menggunakan pantun Betawi. Keluarga mempelai wanita juga menjawab dengan pantun, sehingga terjadilah berbalas pantun.

Maksud prosesi ini sendiri adalah memberikan sejumlah syarat kepada calon mempelai pria sebelum diterima oleh pihak si gadis.

Syaratnya, keluarga si pria harus pandai ‘bekelai’ (berkelahi-red) dan ‘ngaji’ (mengaji-red). Tujuannya agar si pria mampu melindungi dan menjadi pemimpin agama buat keluarganya kelak.

Berikut penggalan pantun seperti yang kerap dilakukan dalam prosesi Buka Palang Pintu:

L (keluarga laki-laki): Assalamu’alaikum P (keluarga perempuan): Walaikum salam.

L: Begini bang. Makan sekuteng di Pasar Jum’at, mampir dulu di Kramat Jati, aye dateng ama rombongan dengan segala hormat, mohon diterime dengan senang hati

P: Oh, jadi lu uda niat dateng kemari. Eh Bang, kalo makan buah kenari, jangan ditelen biji-bijinye. Kalo lu udeh niat dateng kemari. Gue pengen tahu ape hajatnye?…

L: Oh. Jadi Abang pengen tahu ape hajatnye. Emang Abang kagak dikasih tau ame tuan rumehnye. Bang, ade siang ade malam, ade bulan ade matahari, kalo bukan lantaran perawan yang di dalam, kaga bakalan nih laki, gue anterin ke mari.

P: Oh. Jadi lantaran perawan Abang kemari?…Eh. Bang, kage salah Abang beli lemari, tapi sayang kage ade kuncinye, kage salah abang datang kemari, tapi sayang tuh, perawan ude ade yang punye

L: Oh.jadi tuh perawan ude ade yang punye. Eh Bang crukcuk kuburan Cine, kuburan Islam aye nyang ngajiin, biar kate tuh perawan udeh ade yang punye, tetep aje nih laki bakal jadiin

P: .Jadi elu kaga ngerti pengen jadiin.

Eh Bang kalo jalan lewat Kemayoran, ati-ati jalannye licin, dari pada niat lu kage kesampaian, lu pilih mati ape lu batalin

L: Oh. Jadi abang bekeras nih. Eh Bang ibarat baju udah kepalang basah, masak nasi udah jadi bubur, biar kate aye mati berkalang tanah, setapak kage nantinye aye bakal mundur

P: Oh. Jadi lu sangke kage mau mundur, ikan belut mati di tusuk, dalam kuali kudu masaknye, eh. Nih palang pintu kage ijinin lu masuk, sebelum lu penuin persaratannye

L: Oh. Jadi kalo mao dapet perawan sini ade saratnye, Bang.?

P: Ade, jadi pelayan aje ada saratnye, apa lagi perawan.

L: Kalo begitu, sebutin saratnye. Bang.

P: Lu pengen tau ape saratnye. Kude lumping dari tangerang, kedipin mate cari menantu, pasang kuping lu terang-terang, adepin dulu jago gue satu-persatu

L: Oh. Jadi kalo mao dapet perawan sini saratnye bekelai Bang.

P: Iye. Kalo lu takut, lu pulang.

L: Bintang seawan-awan, aye itungin beribu satu, berape banyak Abang punya jagoan, aye bakal adepin satu-persatu.
Biasanya setelah saling menantang dalam pantun, masing-masing keluarga mengeluarkan jurus ala silat Betawi.
Konon, pada jaman dahulu mereka berkelahi betulan. Sekarang tentu saja perkelahian itu hanya simbol belaka.
Karena pada dasarnya pihak keluarga perempuan cuma ingin melihat sejauh Tahukah Anda?
Mana kepandaian silat si calon mempelai pria.
Usai prosesi Buka Palang Pintu, mempelai pria pun diterima keluarga mempelai wanita. Selanjutnya mereka melakukan prosesi ijab dan kabul

tari kecak

Kecak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 

Tari kecak

Penampilan tari Kecak pada penutupan pameran pendidikan di Kolese Kanisius, Jakarta.

Kecak (pelafalan: /’ke.tʃak/, secara kasar “KEH-chahk”, pengejaan alternatif: Ketjak, Ketjack, dan Ketiak), adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar[1], melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.

Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana.

Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

seni jaranan

GE-KA, Seni Jaranan

Jaranan atau jaran kepang adalah seni tradisional yang diyakini sebagai kesenian asli Kediri. Meskipun begitu tak banyak orang Kediri yang mengetahui secara pasti sejarah terciptanya Jaranan

Menurut sejarah, asal muasal seni jaranan atau jaran kepang diangkat dari dongeng rakyat tradisional Kediri tepatnya pada Pemerintahan Prabu Amiseno yaitu Kerajaan Ngurawan, salah satu kerajaan yang terletak di Kediri sebelah timur Sungai Brantas. Konon sang Prabu berputera seorang putrid yang sangat cantik nan rupawan tiada banding yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata yang diberi nama Dyah Ayu Songgolangit. Tidak mengherankan kalau kecantikan Songgolangit tersohor di seantero jagad sehingga banyak raja dari luar daerah Kediri yang ingin mempersuntingnya.
Sonngolangit mempunyai adik laki-laki yang berparas tampan, terampil dan trengginas dalam olah keprajuritasn, bernama Raden Tubagus Putut. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan Raden Tubagus Putut mohon pamit pada ayahandanya untuk berkelana dan menyamar sebagai masyarakat biasa. Sementara itu di Kerajaan Bantar Angin yang dipimpin oelh Prabu Kelono Sewandono, Raden Tubagus Putut berminat mengabdi/Suwito. Berkat kemampuannya dalam olah keprajuritan ia diangkat menjadi patih kerajaan dan diberi gelar Patih Pujonggo Anom. Prabu Kelono Sewandono mendengar kecantikan Dyah Ayu Songgo Langit dan ingin meminangnya, maka diutuslah Patih Pujonggo Anom untuk melamar ke Kediri. Sebelum berangkat ke Kediri Pujonggo Anom memohon petunjuk kepada Sang Dewata agar dirinya tidak diketahui oleh ayahandanya maupun kakaknya.
Di kerajaan Ngurawan banyak berdatangan para pelamar diantaranya Prabu Singo Barong dari Lodoyo yang didampingi patihnya Prabu Singokumbang. Kedatangan Pujonggo Anom untuk melamar membuat terkejut Songgolangit, karena meskipun Pujonggoanom memakai topeng, ia mengetahui bahwa itu adiknya sendiri. Songgolangit menghadap ayahandanya menyampaikan bahwa Pujonggo Anom itu putranya sendiri. Mendengar penuturan itu maka murkalah sang ayah. Kemudian sang Prabu mengutuk Pujonggo Anom bahwa topeng yang dikenakan pada wajahnya tidak bisa dilepas dari wajahnya. Pujonggo Anom mengatakan pada Songgolangit bahwa lamarannya itu sebetulnya untuk rajanya yaitu Prabu Kelono Sewandono. Akhirnya Songgolangit mengeluarkan suatu Patembaya (sayembara) yang isinya: Dia menginginkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah; Barang siapa dapat membuat tontonan yang belum ada di jagad ini, dan bilamana digelar dapat meramaikan jagad; serta Pengarak manten menuju ke Kediri harus �nglandak sahandape bantala� (lewat bawah tanah) dengan diiringi tetabuhan. Barang siapa yang bisa memenuhi permintaan tersebut maka si pencipta berhak mempersunting Dewi Songgolangit sebagai permaisuri.
Pujonggo Anom melaporkan permintaan Songgolangit kepada Prabu Kelono Sewandono. Karena merasa cukup sulit, akhirnya keduanya bersemedi memohon petunjuk Sang Dewata Agung. Dewata memberikan bahan berupa bantang bamboo, lempengan besi serta sebuah cambuk yang disebut Pecut Samandiman. Adapun batang bamboo digunakan untuk membuat kuda kepang yang melambangkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah, lempengan besi dijadikan bahan tetabuhan yang enak didengar. Dalam waktu singkat Kelono Sewandono beserta Pujonggo Anom sudah bisa memenuhi patembaya Dewi Songgolangit.
Akhirnya pasukan prajurit penunggang kuda dari Bantar Angin menuju Kerajaan Kediri dengan diiringi tetabuhan bisa menjadi tontonan yang belum pernah dilihat oelh masyarakat Kediri. Maka mulailah kesenian itu diberi nama Tari Jaran Kepang yang terdiri dari empat orang sebagai penari yang menggambarkan punggawa kerajaan ang sedang menunggang kuda dalam tugas mengawal raja. Tarian tersebut diiringi oleh satu unit musik gamelan jawa berupa ketuk, kenong, kempol, gong suwukan, terompet, kendang dan angklung. Di lain pihak Prabu Singo Barong merasa kedahuluan oleh Prabu Kelono Sewandono, maka marahlah Singo Barong dan terjadilah perang. Kelono Sewandono unggul dalam peperangan berkat pecut Samandiman. Singo Barong pasrah kepada Kelono Sewandono dan sanggup menjadi pelengkap dalam pertunjukkan jaranan yang digelar di Kerajaan Kediri, karena pada dasarnya mereka sangat menyukai musik gamelan. Dengan bergabungnya Singo Barong dan patihnya Singo Kumbang (celeng) maka genaplah penari jaranan berjumlah enam orang hingga sekarang ini.
Selain seperangkat gamelan, pagelaran jaranan juga membutuhkan sesaji yang harus disediakan dari sang dalang jaranan yang lazim disebut �Gambuh� antara lain: Dupa (kemenyan yang dicampur dengan minyak wangi tertentu kemudian dibakar), Buceng (berisi ayam panggang jantan dan beberapa jajan pasar, satu buah kelapa dan satu sisir pisang raja), Kembang Boreh (berisi kembang kanthil dan kembang kenongo), Ulung-ulung (berupa seekor ayam jantan yang sehat), Kinangan (berupa satu unit gambir, suruh, tembakau dan kapur yang dilumatkan menjadi satu lalu diadu dengan tembakau). Selanjutnya sang gambuh dengan mulut komat-kamit membaca mantera sambil duduk bersila di depan sesaji mencoba untuk berkomunikasi dengan roh leluhur dan meminta agar menyusup ke raga salah satu penari jaranan. Setelah roh yang dikehendaki oleh Sang gambuh itu hadir dan menyusup ke raga salah satu penari maka penari yang telah disusupi raganya oleh roh tersebut bisa menari dibawah sadar hingga berjam-jam lamanya karena mengikuti kehendak roh yang menyusup di dalam raganya. Sambil menari, jaranan diberi makan kembang dan minum air dicampur dengan bekatul bahkan ada yang lazim makan pecahan kaca semprong.
Di Kediri kesenian Jaranan sering ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu penting, acara peresmian maupun pesta-pesta keluarga, terlebih untuk acara yang berlangsung pada bulan Suro

Tari Kancet Papatai/Tari Perang

Tari Perang
Tari Perang

2. Tari Kancet Papatai / Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari.

Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

seni lukis

Sejarah umum seni lukis

Zaman prasejarah

Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan dedaunan atau batu mineral berwarna. Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.

Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar).

Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan objek-objek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari objek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap objeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam objek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya.

Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.

Previous Older Entries